Prof. Dewi: Bupati Aang Masih Produktif dan Layak Memimpin Jawa Barat
Selasa pagi (31 Juli 2012) bertempat di Ruang Yayasan sudah tampak ada 2 orang wartawan senior Kuningan dari Radar Cirebon yang secara khusus ingin mewawancarai Prof. Dr. Hj. Dewi Laelatul Badriah, M.Kes. AIFO berkenaan dengan berbagai hal. Didampingi Ketua STIKes Kuningan, Prof. Dewi yang juga Guru Besar Fisiologi di STIKKU menuturkan bahwa dirinya secara pribadi merasa bangga atas majunya para Kepala Daerah (Bupati) dari wilayah III Cirebon (Yance mantan Bupati Indramayu, Dedi Bupati Cirebon, dan Aang Hamid Suganda sebagai Bupati Kuningan). Betapa tidak, wilayah III Cirebon ternyata terbukti menjadi ladang orbitasi para kader terbaik sehingga stok untuk calon pemimpin Jawa Barat ke depan. Khusus tentang Aang Hamid Suganda yang kini menjabat sebagai Bupati Kuningan, Prof. Dewi tidak menampik jika pak Aang disebut sebagai tokoh pembangunan Kuningan. “Sejak awal pemerintahan, saya tahu pak Aang berangkat dari pembangunan fisik. Kenapa, karena mungkin wilayah layanannya jauh-jauh. Melalui infrastruktur yang baik, maka multiplier effect nya dapat mendorong produktivistas masyarakat, menggerakkan ekonomi masyarakat pedesaan dan pada akhirnya diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kesejahteraan dan kemakmuran yang diharapkan. Jadi dengan demikian setiap pemimpin akan dihadapkan pada penetapan prioritas pembangunan yang berbeda-beda“.
Secara lugas Prof. Dewi juga menyebut Bupati Aang sebagai orang yang hebat. Beliau sangat concern dengan isu lingkungan hidup sehingga menjadikan Kuningan sebagai kabupaten konservasi. “Saya pernah datang ke beliau, pesannya cuma satu. Jangan lupa lingkungan kampus harus ditanami pohon. Artinya dengan konsep yang orisinil dan sederhana seperti itu, beliau sedang memikirkan nasib jutaan orang untuk masa depan. Taman kota bisa dibangun, bahkan Kuningan memiliki kebun raya sehingga wajarlah jika pemerintah pusat memberi penghargaan secara personal kepada sosok Aang Kalpataru sebagai supresmasi tertinggi pengharagaan untuk para pejuang lingkungan hidup. Aang terbukti mampu memobilisasi masyarakat untuk peduli pada lingkungan hidup dan ini adalah isu tak populis dan sangat berat untuk mengimplementasikannya, namun terbukti beliau mampu melakukannya. Tata kota Kuningan juga sekalipun termasuk kota kecil, namun tetap cantik dan campernik. Aang dianggap memiliki kepiawaian dalam mengkombinasikan antara proyek fisik dan estetika, dan itu adalah ide yang sangat mahal.
“Sebagai bagian dari warga Kuningan, saya tentu merasa bangga bila pak Aang mau maju sebagai calon gubernur/wakil gubernur Jawa Barat. Kita doakan saja, siapa sih yang tidak ingin Bapaknya menjadi Gubernur“, ujar Prof Dewi. Terkait usia Aang yang sudah mencapai 70 tahun, Prof. Dewi juga tidak menampik bahwa usia memiliki pengaruh terhadap mobilitas. Namun dia melihat bahwa sosok Aang itu selain sehat ia juga bugar. Mungkin hal ini disebabkan karena lifestyle Aang yang bagus seperti sering berolahraga. Lebih lanjut ia menegaskan bahwa dengan tubuh yang bugar maka kemampuan degeneratif dari sel-sel tubuh bisa ditekan hingga 50%. Meskipun muda, jika jasmaninya tidak bugar, maka mubazir karena produktivitasnya akan menurun karena ‘sakitan’ atau ‘geringan’, sedikit-sedikit masuk angin, mudah lelah dan cape. Nah Aang ini lain, sekalipun usianya mungkin sudah mencapai 70 tahun namun karena terdukung kebugaran jasmani ya buktinya beliau masih sangat mobile turun langsung ke desa-desa dan pelosok-pelosok Kabupaten Kuningan. Orang bugar itu biasanya ide-idenya cemerlang dan produktivitasnya di atas rata-rata kebanyakan orang.
“Kebugaran jasmani Aang ini bisa dilihat dari penampilannya yang kekar, tidak tambun (gendut) dan raut wajahnya cerah. Orang bugar itu, hormon melanin-nya tinggi, bawaannya cakep/cantik melulu. Jauh lebih cakep dari wajah aslinya. Ingat, hormon juga berkontribusi besar pada penampilan, disamping aspek spriitual. Nah kalo sekarang pak Aang usianya 70 tahun, maka karena ia bugar bisa jadi kualitas kinerjanya sama dengan mereka yang berusia 40 tahun. Kebugaran bisa menekan angka degenerasi 30 – 40%“, pungkasnya.





Tapi ,,, Keberanian itu untuk siapa? bila Kesatuan Geografis Ciayumajakuning untuk jadi Provinsi saja diabaikan. Ya Keberanian untuk apa, dan untuk siapa??? ,,, Terima Kasih Bu Prof